Jumat, 12 Februari 2016

3K Adalah Padanan Kata Untuk Amanah

3K adalah Komitmen, Konsisten dan Konsekuen. Ketiga kata tersebut jika dijalankan dengan sesungguh hati, tindakannya setali tiga uang alias sama artinya dengan ajaran jadul masa SD ku dulu, yaitu sikap "Amanah dalam menjalankan amanat."
Amat mudah mengatakannya, akan tetapi... Untuk menjalaninya, untuk menjadi sikap, perilaku dan sifat yang tercermin dalam setiap ucapan, gerak dan langkah, sungguh teramat sulit, sungguh tidak semudah mengucapkannya. Ad banyak sekali godaan dan ujian plus rintangan dan hambatan yang menghadang kita, bahkan juga panen cacian, cibiran dan hinaan dari orang-orang yang tidak sejalan dengan kita, tidak suka dengan apa yang kita lakukan dan perjuangkan.

Meskipun demikian, jika kita tetap teguh tuk menjalaninya sedikit demi sedikit seberat apapun itu, pasti mendapat hasil yang baik dan memuaskan.

So, hidup adalah pilihan yang menuntut perjuangan maksimal tuk mewujudkan pilihan itu. Tanpa berusaha dan berjuang secara maksimal, maka semua hanya menjadi mimpi di siang bolong, menjadi fatamorgana yang segera menguap oleh kenyataan hidup yang ada.

Maka, adalah kebenaran semata kata-kata para orangtua dan sesepuh, "Seberapa besar hasil yang kau terima, tergantung dari seberapa besar perjuangan yang kau lakukan."

Sesuai dengan apa yang ku pahami dan jalani, amanah atau tidaknya diri kita dalam menjalani hidup ini, sangat berpengaruh dalam pencapaian dan hasil yang kita peroleh.
 
 
Kebumen, 12 Februari 2016
 
 
Djati

Kamis, 28 Mei 2015

Sembur, Tutur lan Uwur

Duluuu... Jamanku kecil, sering mendengar para orangtua berkata pada anaknya tentang Sembur, Tutur dan Uwur. Bahkan seringkali, Sang Anak diperintahkan agar meminta Sembur dan Tutur pada Pinisepuh, Sesepuh, atau tokoh yang dituakan di daerah setempat, yang jadi pepunden setempat. Sedangkan Uwur, biasanya tidak dibicarakan di muka umum, tapi secara pribadhi antara Orang Tua dan Anak.

Dewasa ini, ketiga kata tersebut sudah jarang terdengar. Hanya pada komunitas/kalangan masyarakat Jawa tertentu saja yang masih menggunakannya pada saat Anak-anak mereka menjelang dewasa dan atau akan merantau, baik untuk belajar diluar daerah maupun bekerja.

Ketiga kata tersebut sekarang sering diringkas menjadi 'Sangu saka wongtua' (bekal dari orangtua) yang jika dirinci tetap 3 hal. Doa, petunjuk dan uang tuk bekal awal mandiri. Tentunya, ini tetap sesuai dengan Sembur, Tutur lan Uwur. Sebab maknanya sama.

Sembur adalah donga pangestu inggih doa restu dari orangtua atau sesepuh atau pepunden untuk para putra wayah alias anak cucu agar senantiasa diberi kelancaran, keselamatan, kesuksesan yang penuh rahmat dan berkah Gusti Allah (tansah ingesihan dening Gusti, pinaringan rahayu widodo basuki raharja ing samudayanipun). 

Tutur adalah petunjuk dan atau arahan, piwulang, pelajaran, tuntunan dari orangtua, sesepuh, dan atau pepunden pada anak cucu bagaimana langkah terbaik untuk mencapai cita-cita sesuai dengan minat, kemampuan dan kapasitas anak cucu, sehingga bisa mrantasi gawe, bisa makaryo dg baik dan memperoleh kesuksesan kang berkah.

Uwur adalah pemberian harta benda dari orangtua, sesepuh dan atau pepunden untuk bekal anak cucu dalam menjalani hidup dengan harapan bisa membuat anak cucu urip kepenak.

Untuk yang benar-benar mampu, ketiga hal itu akan diberikan sendiri oleh orangtua pada anaknya. Sedangkan secara umum, Orangtua hanya akan memberikan 1 atau 2 hal saja dan untuk melengkapinya, akan menyuruh Sang Anak untuk meminta pada Pinisepuh, Tokoh atau Pepunden setempat. Bahkan, lebih sering para orangtua hanya berkata, "Tek sangoni donga slamet, ben tansah slamet saparan-paran (ku bekali doa selamat, agar senantiasa selamat dimanapun)." Begitu sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Tentang bagaimana pengaruh dari doa tersebut dan atau Sembur, Tutur lan Uwur pada perjalanan hidup Sang Anak, sangat tergantung dari iguh pratikele, usaha dan ikhtiar Sang Anak dalam menjalani hidupnya.


Kebumen, 28 Mei 2015